Ibu burnout kurangi stres lewat jurnal
Sore hari setelah hujan reda, aroma tanah basah selalu berhasil membuat saya menarik napas dalam-dalam, menyadari betapa lelahnya bahu ini setelah seharian menemani si kecil dan merapikan mainan yang tak kunjung habis. Sebagai ibu rumah tangga, ada hari-hari di mana rasanya energi kita terkuras habis sebelum jam makan siang tiba. Rasa lelah yang menumpuk ini sering kali bukan hanya fisik, tetapi juga mental yang jenuh, atau yang biasa kita sebut sebagai burnout ibu.
Di tengah tumpukan cucian dan jadwal harian yang terus berubah, mencari waktu untuk diri sendiri rasanya seperti mimpi yang mewah. Dulu, saya sering merasa bersalah jika ingin beristirahat sejenak. Namun, saya belajar bahwa membiarkan emosi tersumbat justru membuat saya lebih mudah marah pada hal-hal kecil. Dari sana, saya mencoba mencari cara sederhana untuk mengurai benang kusut di kepala, tanpa harus mengeluarkan banyak biaya atau meninggalkan rumah. Jawabannya ternyata ada pada selembar kertas dan sebuah pena: menulis jurnal harian.
Mengapa Menulis Jurnal Menjadi Penyelamat di Hari yang Berat?
Menulis emosi atau curhat tertulis bukan tentang membuat karya sastra yang indah. Bagi kita yang energinya terbatas, jurnal harian adalah ruang aman yang tidak menghakimi. Di sini, kita bebas menumpahkan segala rasa kesal, cemas, hingga rasa bersalah tanpa takut menyinggung siapa pun.
Terapi menulis ini membantu kita melakukan regulasi emosi. Saat pikiran terasa penuh oleh stres domestik, memindahkannya ke dalam bentuk tulisan membuat beban tersebut terasa sedikit lebih ringan. Kita seperti sedang memindahkan barang bawaan yang berat dari pundak ke atas meja.

Menemukan Ketenangan Pikiran Tanpa Beban Aturan
Saat pertama kali mencoba, saya sempat terjebak ingin membuat jurnal yang estetik seperti yang sering terlihat di media sosial. Akibatnya, saya justru merasa terbebani dan akhirnya berhenti. Setelah melalui proses coba-coba, saya menyadari bahwa kunci utama dari aktivitas mandiri ini adalah kebebasan.
Berikut adalah beberapa cara sederhana yang saya lakukan untuk menjaga rutinitas malam ini tetap berjalan, bahkan saat tubuh sudah sangat lelah:
-
Jangan Mematok Waktu yang Lama Cukup luangkan waktu lima hingga sepuluh menit sebelum tidur. Saat anak sudah terlelap dan rumah mulai sunyi, momen ini menjadi waktu sendiri yang sangat berharga untuk relaksasi pikiran.
-
Tulis Apa Saja, Tanpa Sensor Tidak perlu khawatir tentang tata bahasa atau tulisan yang rapi. Tuliskan saja apa yang dirasakan hari itu. 'Hari ini saya lelah sekali karena si kecil rewel' atau 'Saya merasa bersalah karena sempat berteriak tadi siang'. Mengakui emosi adalah langkah pertama untuk mengelola cemas.
-
Fokus pada Pelepasan, Bukan Solusi Tujuan kita menulis bukan untuk langsung menyelesaikan masalah, melainkan untuk pelepasan stres. Biarkan pena mengalir mengikuti apa yang dirasakan oleh kesehatan jiwa kita saat itu.
Menghargai Proses yang Tidak Sempurna
Tentu saja, ada malam-malam di mana saya terlalu lelah bahkan hanya untuk memegang pena. Dan itu sangat tidak apa-apa. Kegagalan untuk konsisten setiap hari adalah hal yang sangat wajar dalam dinamika pengasuhan anak. Kita tidak sedang mengejar kesempurnaan, melainkan mencari damai batin di sela-sela kesibukan.
Menulis jurnal harian adalah salah satu bentuk self-care murah yang paling realistis untuk kita lakukan. Ini adalah cara kita untuk menyapa diri sendiri yang mungkin seharian ini terlupakan karena sibuk mengurus orang lain.
Untuk kamu yang saat ini sedang merasa lelah dan jenuh, tidak perlu terburu-buru untuk merasa baik-baik saja. Mari kita mulai dengan mengambil napas perlahan, lalu menuliskan satu kalimat sederhana malam ini. Kamu sudah melakukan yang terbaik hari ini, dan itu sudah lebih dari cukup.


